Puasa dan Diabetes

By Administrator | 20-05-2019 | Dibaca : 372

Secara fisiologis apa yang terjadi dalam tubuh ketika manusia yang biasa makan 3x sehari menjadi berkurang menjadi 2 kali sehari dengan rentang waktu hampir 14 jam tanpa makan dan minum? Tubuh itu diciptakan sangat cerdas (smart body), tanpa diintervensi apapun oleh manusia sendiri, management tubuh mampu mengelola semua jenis makanan yang masuk.

Terbukti keberadaan manusia sampai saat ini masih bertahan di berbagai belahan bumi, baik yang ada di hutan maupun di kota. Bahkan ironisnya sekelompok manusia yang hidup nomaden, dibuat tidak berdaya karena dipaksa untuk tinggal di kampung yang membuat mereka menderita karena tidak bisa bergerak seperti dulu lagi ketika hidup di hutan. Namun mereka akan melakukan adaptasi karena tekanan sehingga dengan kekuatan yang ada mereka tetap bisa bertahan.

Puasa adalah kondisi di mana tubuh mendapat tekanan ringan, yang membuat daya tahan tubuh meningkat untuk menghadapi tekanan tersebut. Maka Imunoglobulin bertambah banyak karena menjadi waspada, yang nampak, orang yang berpuasa menjadi lebih sehat.

Benarkah? Ya, benar jika asupan makan diatur…

Puasa identik dengan sebuah kondisi tubuh yang beradaptasi dengan pola makan yang berubah, setelah 11 bulan makan 3 kali sehari, sekarang 2 kali sehari dengan waktu yang berbeda dari biasanya.

Tubuh demikian cepat beradaptasi, sehingga kegiatan sehari hari tetap dapat dilakukan seperti biasanya. Pada sebagian orang, bulan puasa merupakan bulan penuh berkah karena kesempatan mengatur makanan bersama sama, dan bugar serta berat badan yang semula bandel diajak turun bisa turun.

Sebaliknya sebagian lagi bertambah berat badan, bagaimana tidak, jenis karbohidrta dan rasa manis, mendominasi santap sahur dan buka. Tidak jarang juga, tradisi buka bersama menjadi ajang bingung makan apa karena berbagai sajian ada di meja.

Tubuh kita tetap bekerja saat puasa, berarti tetap memerlukan energi, sedangkan makanan masuk hanya 2 kali dalam rentang waktu yang sangat panjang. Di sinilah ajaibnya tubuh, adaptasi diperlukan jika terjadi semua perubahan, kemudian akan menjadi biasa setelah proses beberapa hari terjadi.

Pada orang yang biasa puasa, memasuki bulan Ramadhan tidak perlu adaptasi lagi. Sahur adalah waktu di mana kesempatan makan cukup untuk memberi energy selama 14 jam ke depan, cukup kah? Tidak. Lalu bagaimana?

Ketika energy dari makanan saat sahur terus berkurang, maka simpanan energy di hati dan otot yang namanya glikogen akan dibongkar menjadi glukosa. Jika glikogen menyusut makan cadangan lemak dipakai sebagai sumber energy, jadi bisa dibayangkan ya, betapa puasa sangat menguntungkan bagi siapapun yang menjalankannya, mempunyai kans turun berat badan, dan esensi ibadah tetap menjadi yang utama.

Seharian puasa, tidak hanya energy yang habis, cairan juga dipakai, trik mengganti cairan yang habis dalam sehari adalah minum satu gelas air kelapa muda sebagai cairan isotonic alami, atau air hangat saat berbuka. Berikutnya mencukupkan kebutuhan mineral dan vitamin dengan menyantap buah buahan kaya nutrisi seperti kurma. Selain faktor budaya, kurma merupakan buah yang sarat energy, mineral, dan vitamin.

Variasi menyantap buah buahan diperlukan untuk memberi variasi komposisi nutrisi. Gizi seimbang tetap menjadi kunci kebugaran saat bulan puasa, ketercukupan proten, karbohidrat dan lemak menjadikan menu buka puasa lengkap.

Karbohidrat bisa berupa kentang, nasi tinggi serat, singkong, jenis protein seperti telur rebus, pepes ikan, tempe tahu dll, kebutuhan lemak berupa daging, santan segar dll. Cukupkan sesuai kebutuhan tubuh, bukan kebutuhan mata. Tidak jarang juga setelah beradaptasi dengan puasa beberapa hari, buka puasa cukup makan buah sudah terasa kenyang.

Bagi penderita Diabetes Mellitus bulan puasa menjadikan momentum adaptasi positif juga jika tetap menjaga makan, tidak latah dengan tradisi setiap buka puasa harus minum manis. Sebenarnya ini adalah budaya yang cukup membahayakan, karena bukan kewajiban tetapi sebagai adat istiadat yang tanpa sadar justru akan merusak system kekebalan tubuh yang terbentuk dari hasil puasa.

Sangat disayangkan jika sudah mejalani puasa sehari penuh ditutup dengan minuman dengan pemanis buatan, pemanis yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh tubuh karena memang anorganik (bukan organik) Tubuh akan berusaha mencerna tapi tidak bisa, enzim terus dikeluarkan demi tercerna pemanis ini, alhasil enzimnya tekor. Maka terjadi ketidak seimbangan enzim yang terus terjadi, yang semula sehat setelah puasa menjadi diabetes….waaah jangan yaa…

Tubuh yang cerdas akan tetap cerdas kalau kita memperlakukan cerdas, dan akan rusak jika makanan yang masuk tubuh adalah benda asing yang anorganik, benda yang tidak dikenali tubuh dehingga susah payah akan di respon tapi tidak mampu. Maka tubuh juga akan beradaptasi dengan situasi yang tidak organic, yang disebut maladaptasi. (PU)